oleh ReO Fiksiwan
“Orang-orang yang terasing dari komunitas, pekerjaan, dan pergaulan adalah pendukung utama ekstremisme.” — Robert D. Putnam(85), Bowling Alone: The Collapse and Revival of American Community(Revisi 2020).
Setelah mengajukan kritik atas keikutsertaan Indonesia dalam Board of Peace(BoP) untuk Gaza yang digagas Presiden Trump, Wakil Menteri Luar Negeri 2014–2019, Dr. Dino Patti Djalal(60), diplomat senior, putra ahli hukum internasional mendiang Prof. Dr. Hasyim Djalal, memanfaatkan platform media Instagram untuk menuliskan refleksinya: Wisdom without Fear.
Di tengah pengaruh kemaruk peradaban, dari politik hingga kebudayaan, kehadiran homo digitalis telah dengan cergas meruntuhkan prinsip kemanusiaan paling fundamental: etikabilitas.
Dunia digital melahirkan makhluk otomaton yang digerakkan oleh algoritme media sosial, yang sering kali menampilkan wajah ganas manusia dalam bentuk baru.
Menghadapi keganasan ruang publik digital ini, Dino — tokoh diaspora Indonesia, mendirikan dan memimpin Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), sebuah forum independen yang membahas isu-isu global dan diplomasi — menyerukan kalimat tegas: Nobody owns me. I am master of my own conscience.
Refleksi Dino berpadu dengan gagasan Avram Alpert(39), penulis dan mengajar di Princeton University, dalam The Good-Enough Life(2022), ikut mengritik budaya “greatness” yang menuntut individu untuk selalu menjadi yang terbaik, paling kaya, paling berpengaruh, atau paling terkenal.
Ia menunjukkan bahwa mengejar kehebatan justru merugikan banyak orang—menyebabkan stres, kecemasan, kerusakan hubungan, ketidaksetaraan sosial-ekonomi, dan bahkan kerusakan lingkungan.
Sebagai alternatif, Alpert menawarkan hidup “cukup baik”(good-enough): menerima keterbatasan, menghargai keseimbangan, dan membangun masyarakat di mana semua orang bisa berkembang tanpa harus menjadi “yang terhebat.”
Ia menggabungkan filsafat, psikologi, dan refleksi sosial untuk menunjukkan bahwa kebijaksanaan sejati muncul dari penerimaan, bukan dari kompetisi tanpa henti.
Perspektif ini semakin diperkaya oleh buku Overcome Fear(2025) karya Anastasia Fomenko, Oskar Pawlak, dan William Vanden.
















