TERASJABAR.ID – Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, 25 Februari 2026, memasuki usia ke-56 tahun dengan refleksi mendalam atas perjalanan hidup dan kepemimpinannya di Kota Bandung.
Farhan mengaku bersyukur atas berbagai berkah yang diterimanya di usia yang semakin matang. Namun, kebahagiaan itu juga dibarengi dengan duka mendalam setelah kepergian sang ibunda beberapa waktu lalu.
“Alhamdulillah di usia ke-56 ini saya mendapatkan banyak sekali berkah. Walaupun saya kehilangan jimat saya, ibunda saya wafat minggu lalu. Tetapi ini makin mendewasakan, makin mematangkan,” ujarnya di Pendopo Kota Bandung, Rabu (25/02/2026)
Menurut Farhan, kehilangan tersebut menjadi titik refleksi pribadi yang memperkuat keteguhan dalam memimpin. Ia menilai, tantangan dan dinamika yang dihadapi selama setahun terakhir juga turut membentuk kematangan kepemimpinannya.
Ia menyebut, sepanjang tahun pertama masa jabatannya, Kota Bandung mengalami proses pematangan tata kelola yang tidak mudah. Hal itu tak lepas dari kondisi pemerintahan sebelumnya yang bersifat ad-hoc sejak 2021.
“Dari 2021 sampai Februari 2025 tata kelola Kota Bandung sifatnya sementara semua. Saya butuh waktu sekitar setahun untuk merapikan semua tata kelola ini,” katanya.
Farhan mengakui, dalam proses tersebut ia juga menghadapi badai hukum yang cukup memukul secara pribadi maupun kelembagaan. Namun ia memilih untuk tetap melangkah maju.
“Ada badai hukum dan itu sangat memukul saya. Tapi apa boleh buat? Kita tetap harus berlayar, tidak boleh berhenti,” tegasnya.
Memasuki usia 56 tahun, Farhan memiliki visi yang lebih luas. Ia ingin agar berbagai program yang dijalankan di Kota Bandung tidak hanya berdampak lokal, tetapi juga menjadi bagian dari solusi nasional.
Menurutnya, hubungan dengan pemerintah provinsi dan pemerintah pusat harus terus dimatangkan agar program Bandung selaras dengan agenda pembangunan nasional.
“Program-program di Kota Bandung ini harus menjadi bagian dari solusi permasalahan nasional. Jadi apa yang dibikin di Bandung sebetulnya bagian dari apa yang bisa dicapai dalam RPJMN,” ujarnya.
Di sisi lain, ia juga mulai menjajaki kerja sama internasional. Namun langkah tersebut baru dilakukan setelah tata kelola pemerintahan dinilai lebih stabil dan sistemik.
Farhan menekankan, stabilitas tata kelola menjadi fondasi penting sebelum membuka kolaborasi yang lebih luas.
Selain visi pembangunan, Farhan juga menyinggung karakter Kota Bandung yang menurutnya harus tetap kritis. Ia menilai kritik dari masyarakat justru menjadi energi untuk terus berkembang.
“Kritik itu sangat membantu saya untuk bisa berkembang. Kita tetap menjadikan Kota Bandung sebagai kota yang kritis. Jangan menjadi kota yang terlena,” katanya.
Ia menilai budaya kritis warga Bandung merupakan kekuatan yang harus dipelihara, bukan diredam. Kota yang kritis, menurutnya, akan lebih adaptif dan inovatif dalam menghadapi tantangan.
Di usia yang ke-56 ini, Farhan juga menyadari, secara administratif ia akan memasuki kategori lansia menjelang akhir masa jabatan.
“Di akhir masa jabatan saya sudah resmi jadi lansia,” ujarnya sambil tersenyum.
Meski demikian, ia berkomitmen untuk menuntaskan berbagai agenda pembangunan yang telah dirancang. Baginya, usia bukan penghalang untuk tetap produktif dan visioner.
Farhan berharap, sisa masa kepemimpinannya dapat dimanfaatkan untuk memperkuat fondasi tata kelola, memperluas kolaborasi, serta memastikan Bandung tetap menjadi kota yang progresif dan berintegritas.
“Terpenting, kita terus berlayar. Tidak boleh berhenti,” tuturnya.














