Rizaludin juga mengungkapkan potensi zakat nasional yang sangat besar, mencapai ratusan triliun rupiah dari berbagai sektor seperti pendapatan, korporasi, pertanian, hingga tabungan.
Potensi tersebut perlu dioptimalkan melalui penguatan ekosistem zakat, termasuk kolaborasi dengan lembaga keuangan syariah, digitalisasi layanan, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia pengelola zakat.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya transformasi zakat dari sekadar bantuan konsumtif menuju pemberdayaan ekonomi produktif.
“Arah ke depan, zakat harus mendorong mustahik menjadi mandiri, bahkan bertransformasi menjadi muzaki. Ini yang kita dorong bersama melalui program-program pemberdayaan berkelanjutan,” jelasnya.
Sementara itu, Direktur Retail Banking PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk, Kemas Erwan Husainy, menyampaikan komitmen BSI dalam mendukung penguatan ekosistem zakat nasional melalui kolaborasi dengan BAZNAS.
Ia mengungkapkan, dalam beberapa tahun terakhir BSI telah menyalurkan zakat perusahaan dalam jumlah signifikan serta mengembangkan berbagai program pemberdayaan bagi masyarakat.
Kemas turut mengapresiasi peran BAZNAS dalam mengelola zakat secara profesional dan berdampak luas bagi masyarakat.
“Kolaborasi BSI dan BAZNAS tidak hanya pada penghimpunan, tetapi juga penyaluran yang berdampak, seperti program ekonomi, pendidikan, hingga pemberdayaan mustahik agar bisa naik kelas,” ujarnya.
Ia juga menambahkan, inovasi digital menjadi kunci dalam mempermudah masyarakat menunaikan zakat. Melalui platform digital, BSI menghadirkan kemudahan layanan seperti kalkulator zakat, pembayaran otomatis, hingga integrasi sistem penyaluran agar lebih transparan dan akuntabel.
Kegiatan ini turut dihadiri oleh Ketua BAZNAS RI Dr. Ir. H. Sodik Mudjahid, M.Sc., Deputi I Bidang Pengumpulan BAZNAS RI H. M. Arifin Purwakananta, S.IKom., M.I.Kom., CWC., CFRM., serta Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo, beserta jajaran dari kedua lembaga.
Sumber: BAZNAS
















