Ia menjelaskan bahwa produk sorgum hasil freeze drying juga berpotensi dikembangkan menjadi tepung sebagai bahan baku beras analog yang diperkaya nutrisi.
Formulasi tersebut dapat ditingkatkan dengan penambahan protein nabati dari kacang-kacangan maupun rempah, sehingga menghasilkan pangan dengan nilai gizi yang lebih lengkap.
“Ini membuka ruang inovasi yang luas. Pangan lokal bisa diolah menjadi produk modern tanpa kehilangan identitas dan keunggulan nutrisinya,” katanya.
Badan Pangan Nasional memandang penguatan teknologi pangan lokal sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk memperluas konsumsi pangan yang beragam bergizi seimbang dan aman.
Selain mendukung pasar komersial, produk olahan sorgum dan singkong juga diarahkan untuk mendukung suplai pangan ke SPPG dalam Program MBG.
Langkah ini sejalan dengan amanat Peraturan Presiden Nomor 81 Tahun 2024 tentang Percepatan Penganekaragaman Pangan Berbasis Potensi Sumber Daya Lokal.
Melalui inovasi, teknologi, dan penguatan UMKM, Badan Pangan Nasional mendorong pangan lokal menjadi fondasi ketahanan pangan yang berkelanjutan.
“Ini tentang ekonomi kerakyatan dan kedaulatan pangan. Seluruh rantai dikerjakan di dalam negeri dengan memaksimalkan potensi lokal dan teknologi yang sesuai kebutuhan masyarakat,” tutup Andriko.***


















