Salah satu produk tersebut telah terserap ke dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di kawasan Karawang, yakni cookies sorgum yang disuplai melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Penyerapan ini menunjukkan bahwa pangan lokal olahan memiliki peluang nyata untuk masuk ke sistem penyediaan pangan bergizi berskala nasional.
“Ketika produk pangan lokal sudah bisa masuk ke MBG, itu artinya kualitas, keamanan, dan kontinuitasnya sudah memenuhi kebutuhan. Ini menjadi bukti bahwa pangan lokal bisa berperan langsung dalam pemenuhan gizi masyarakat,” kata Andriko dalam siaran pers Bapanas.
Penguatan inovasi pangan lokal juga dikembangkan melalui dukungan teknologi lanjutan, salah satunya freeze dryer untuk produk berbasis sorgum.
Teknologi ini memungkinkan produk seperti nasi sorgum, bubur, dan sari sorgum memiliki masa simpan lebih panjang dengan kandungan gizi yang tetap terjaga.
Akademisi dan peneliti pangan, Prof. Wisnu, menilai teknologi freeze drying berperan penting dalam meningkatkan daya saing pangan lokal.
Menurutnya, produk pangan lokal sejatinya memiliki nilai nutrisi yang sangat baik, namun sering terkendala preferensi dan kepraktisan.
“Dengan teknologi freeze drying, nilai gizi tetap terjaga dan produk bisa disimpan lebih lama. Penyajiannya juga praktis, cukup diseduh dan siap dikonsumsi,” ujarnya.


















