Selain itu, pemerintah terus melakukan langkah intervensi pada komoditas yang mengalami tekanan harga. Salah satunya pada cabai rawit merah yang mengalami kenaikan cukup signifikan dalam beberapa hari terakhir.
Intervensi cabai rawit yang telah dilakukan mulai 19 sampai 24 Februari telah mencapai 10,9 ton. Total pasokan di Pasar Induk Kramat Jati (PIKJ) pada 23 Februari mencapai 16 ton atau meningkat 45,45 persen dibanding hari sebelumnya, dan tercatat mendorong koreksi harga sebesar 22,22 persen menjadi Rp 70.000 per kilogram.
“Langkah Badan Pangan Nasional sebagaimana arahan dari Bapak Kepala Bapanas, lakukan langkah-langkah antisipasi, langkah-langkah intervensi, maka Badan Pangan Nasional bersama Champion petani binaan Kementerian Pertanian di berbagai sentra cabai mengirim pasokan cabai rawit merah ke Pasar Induk Kramat Jati (PIKJ) melalui skema Fasilitas Distribusi Pangan. Oleh karena itu, harapan kita dalam beberapa hari ini, harga cabai sudah mulai turun,” jelasnya.
Selain intervensi komoditas spesifik, stabilisasi juga diperkuat melalui Gerakan Pangan Murah (GPM) yang sepanjang Februari 2026 telah dilaksanakan sebanyak 1.452 kali di 32 provinsi dan 287 kabupaten/kota.
Khusus komoditas daging ayam ras, distribusi dilakukan melalui sekitar 1.200 outlet yang menggelar GPM dengan harga Rp 40.000 per kilogram sesuai Harga Acuan Penjualan (HAP).
Ia mengimbau masyarakat tetap tenang dalam berbelanja. “Jangan membeli terlalu banyak, jangan panik buying. Belanjalah sewajarnya, konsumsilah sewajarnya,” tutup Ketut.
Adapun pengawasan dan intervensi ini akan terus diperkuat guna memastikan stabilitas harga dan ketersediaan pangan tetap terjaga hingga periode idulfitri di seluruh wilayah.***

















