Karena kesannya yang tunggal, kandungan protesnya tidak melebar kemana-mana supaya tidak panjang. Namanya memang cerpen, harus disampaikan dengan pendek.
Edgar Alan Poe, pengarang Amerika pada abad ke-19 memberi petunjuk bahwa cerpen itu harus benar-benar menunjukkan kependekannya. Selesai dibaca dalam sekali duduk.
Namun Budi Dharma yang penulis novel Olenka dan Solilokui itu mengkritik Edgar Alan Poe yang kadang-kadang membelot dari konsepnya sendiri.
“Pembelotan mungkin terjadi manakala aspirasi pengarang sudah tidak mungkin tertampung dalam cerpen. Namun segala sesuatu tentu tergantung sebagian besar pada pengarangnya sendiri. Itulah cerpen,” tulis Budi Dharma. (*)
















