Curah hujan kategori menengah mendominasi hingga 76,69 persen wilayah, disusul kategori tinggi 21,43 persen dan sangat tinggi 1,22 persen. Sementara wilayah dengan curah hujan rendah hanya sekitar 0,65 persen.
“Kondisi ini menunjukkan bahwa potensi genangan dan banjir perlu diwaspadai, khususnya di wilayah dengan sistem drainase yang belum optimal,” ujar Mentan.
Memasuki Februari 2026, BMKG memprediksi adanya perubahan pola curah hujan. Mayoritas wilayah masih didominasi curah hujan kategori menengah sebesar 82,21 persen.
Namun, wilayah dengan curah hujan kategori rendah meningkat menjadi 16,25 persen, sementara kategori tinggi dan sangat tinggi menurun signifikan.
Menurut Mentan, perubahan pola ini harus dibaca dengan cermat oleh petani dan pemerintah daerah agar tidak salah langkah dalam pengelolaan lahan.
“Penurunan hujan di beberapa wilayah bukan berarti aman sepenuhnya. Petani tetap harus adaptif, membaca cuaca, dan menyesuaikan strategi tanam di lapangan,” ujarnya.
Ia menekankan, di wilayah dengan curah hujan menengah hingga tinggi, petani perlu memastikan saluran drainase berfungsi baik agar tidak terjadi genangan yang berpotensi merusak tanaman.
Sementara di wilayah yang mulai mengalami penurunan hujan, pengaturan jadwal tanam dan efisiensi penggunaan air menjadi kunci.















