Alhamdulillah. Satu kata yang pertama kali terucap ketika bus yang kami tumpangi akhirnya berhenti di Kota Bandung. Perjalanan dari Bekasi terasa panjang, namun lelah itu seketika luruh saat udara sejuk khas Bandung menyapa wajah kami. Kota ini selalu punya cara sederhana untuk membuat hati merasa pulang.
Perjalanan ini bukan sekadar pindah tempat, melainkan perjalanan hati. Bersama istri tercinta, saya menikmati setiap detik kebersamaan di dalam bus. Kami berbincang ringan, sesekali terdiam menikmati jalanan, dan lebih sering tersenyum tanpa alasan. Di usia yang terus bertambah, saya semakin sadar bahwa kebahagiaan tidak selalu soal tujuan besar, tetapi tentang dengan siapa kita berjalan.
Sesampainya di Bandung, rasa syukur semakin lengkap. Kami disambut keluarga dengan pelukan hangat dan senyum tulus. Tak ada sambutan mewah, tak ada kata-kata berlebihan, namun justru di situlah letak keindahannya. Keluarga adalah tempat paling jujur untuk pulang, apa adanya.
Malam itu, kami diajak makan malam bersama di Ramen Bajuri, salah satu tempat yang cukup legendaris di Bandung. Suasana hangat langsung terasa sejak melangkah masuk. Meja sederhana, obrolan ringan, tawa yang sesekali pecah—semuanya terasa begitu nikmat. Bukan karena makanannya semata, tetapi karena kebersamaan yang menyertainya.
Di tengah kepulan hangat ramen, saya sempat terdiam sejenak. Betapa seringnya kita sibuk mengejar ini dan itu, hingga lupa bahwa kebahagiaan sejati justru ada di momen-momen sederhana seperti ini. Duduk satu meja bersama keluarga, saling bertanya kabar, saling mendengar cerita, dan saling mendoakan.












