TERASJABAR.ID – Meski mendapat tekanan dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk membantu membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menegaskan bahwa negaranya tidak akan terseret ke perang yang lebih luas di Timur Tengah.
Starmer menyatakan Inggris tetap mempertimbangkan berbagai opsi untuk menjaga keamanan jalur pelayaran, namun tidak ingin terlibat dalam konflik militer yang lebih besar.
Ia mengakui keputusan tersebut bukan hal mudah, tetapi pemerintah akan tetap mengutamakan kepentingan nasional dan stabilitas kawasan.
“Meskipun mengambil tindakan yang diperlukan untuk membela diri dan sekutu kami, kami tidak akan terseret ke dalam perang yang lebih luas.” katanya, sebagaimana ditulis The Guardian pada Selasa dini hari, 17 Maret 2026.
Sementara itu, sejumlah negara Eropa juga menolak mengirim kapal perang ke Selat Hormuz.
Jerman dan Italia menyatakan tidak berencana terlibat dalam operasi militer, sementara Australia, Prancis, dan Jepang mengambil sikap serupa.
Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius menegaskan konflik tersebut bukan perang yang dimulai oleh Eropa.
Penolakan itu memicu kritik dari Trump, yang menyayangkan sikap Inggris karena tidak mengirim kapal penyapu ranjau ke kawasan tersebut.
Menurutnya, sekutu NATO seharusnya ikut membantu menjaga jalur perdagangan energi global tetap terbuka.
Krisis di Selat Hormuz, yang biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia, telah mendorong harga minyak melonjak dari sekitar 65 dolar menjadi lebih dari 100 dolar per barel.
Lonjakan ini meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi dan biaya hidup.
Starmer menegaskan bahwa Inggris bersama sekutu tetap mencari solusi diplomatik untuk meredakan konflik dan membuka kembali jalur pelayaran, sambil berharap perang dapat segera berakhir demi menjaga stabilitas ekonomi global.-***















