TERASJABAR.ID – Teknologi kecerdasan artifisial (AI), terutama yang digunakan dalam algoritma media sosial, telah membuat media tradisional kehilangan audiensnya.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mengatakan algoritma media sosial lebih memilih menyajikan konten-konten ringan yang menarik perhatian pengguna dibandingkan karya jurnalistik berkualitas yang dibuat dengan susah payah oleh para jurnalis.
“Teman-teman effort-nya luar biasa untuk membuat karya jurnalistik, tapi ternyata algoritma membuat dia tidak menarik. Jurnalisme gagal ketika masuk ke dalam platform media sosial di mana kita gak bisa mengatur algoritma itu,” ujarnya dalam acara Media Connect bertema “Dari Cepat Jadi Cermat: Menyikapi AI di Ruang Redaksi” yang digelar di Cornerstone, Bandung.
Menurut Wamenkomdigi, situasi ini menantang para jurnalis untuk mampu mengemas informasi-informasi penting dalam bentuk konten yang menarik agar mampu bersaing dalam algoritma media sosial.
Tidak hanya itu, media tradisional yang bermigrasi ke media digital juga harus menghadapi munculnya fenomena adopsi AI dalam mesin pencari di internet yang berpotensi mengurangi jumlah pembaca situs-situs berita.
“Tadinya itu cuma search engine biasa, tapi sekarang kalau kita cari kata kunci tertentu, itu sudah dapat summary yang luar biasa berikut insight,” jelasnya.
Namun demikian, AI tidak sepenuhnya merugikan media tradisional karena AI juga membawa manfaat besar bagi dunia jurnalistik.
Nezar mengungkapkan AI dapat dimanfaatkan untuk membantu proses produksi berita agar lebih efisien.

















