TERASJABAR.ID – Pemerintah menegaskan bahwa tingginya tingkat adopsi kecerdasan artifisial (AI) di Indonesia harus diterjemahkan menjadi peningkatan produktivitas nasional, penciptaan nilai ekonomi, dan penguatan daya saing bangsa.
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menyampaikan bahwa tingkat adopsi AI di Indonesia telah mencapai 92 persen.
Namun, pemanfaatannya untuk kegiatan produktif dan penciptaan nilai tambah ekonomi masih perlu diperluas.
“Walau dengan adopsi AI 92 persen, penggunaan AI untuk produktivitas di Indonesia masih minim, inilah mengapa hari ini kita berbahagia melihat kelahiran dari startup-startup baru,” ujar Meutya, dikutip siaran pers Kemenkomdigi.
Ia menyampaikan hal itu dalam acara kelulusan program Google for Startups Accelerator di Garuda Spark Innovation Hub Jakarta, Jakarta.
Program ini merupakan kerja sama antara pemerintah dan mitra global untuk mempercepat proses pembelajaran dan peningkatan keterampilan talenta digital Indonesia.
Google for Startups Accelerator telah meluluskan 63 startup, terdiri dari 43 startup tahap awal (early stage) dan 20 startup Series A dalam satu tahun pertama sejak peluncurannya tahun lalu lewat kerjasama yang dilakukan Kemkomdigi dan Google Indonesia.
“Enam puluh tiga startup nasional yang lulus program ini bukanlah angka yang kecil. Bahkan dilaporkan ada 2.500 startup aktif di Indonesia yang sudah berkontribusi langsung untuk memberikan nilai ekonomi digital. Ini menunjukkan bahwa startup merupakan motor penggerak ekonomi digital nasional,” ujarnya.
















