Oleh : Dwi Mukti Wibowo, SH.,MH
“Gajah bertarung dengan gajah, pelanduk mati ditengah-tengah”
TERASJABAR.ID – Sayyid Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran, kini telah tiada. Publik Iran sangat kehilangan figur yang bersikap tegas terhadap Zionisme dan Israel. Khamenei selama ini konsisten menolak normalisasi hubungan dengan Israel. Sekaligus menunjukkan Iran tidak akan pernah tunduk atau takut pada Zionis. Dari pidato-pidato pentingnya hingga kebijakan luar negerinya, tokoh panutan Iran ini selalu menentang Zionisme. Khamenei membuktikan bahwa Iran adalah negara yang tetap berjuang untuk Palestina. Melawan tekanan dari kekuatan besar adalah komitmennya walau harus gugur demi negaranya, ditangan musuhnya.
Kepergian sang legenda ternyata tidak menyurutkan semangat perjuangan rakyat Iran. Tapi justru menyulut bara yang membakar “nyali besar” untuk meneruskan perjuangan, yang menitis dan menetes pada jiwa generasi-generasi setelahnya. Menghasilkan perlawanan yang intens dengan skala yang meluas, melalui unjuk kekuatan militer yang agresif, termasuk mengekspose rudal balistik dan drone canggihnya. Dengan upaya ini Teheran konsisten menantang AS dan Israel, menolak tunduk pada tekanan, serta aktif melindungi rezim melalui Garda Revolusi (IRGC). Kemampuan ini didukung arsenal rudal terbesar di Timur Tengah.
Patriotisme Iran yang terus berkobar, telah menjelmakan sebagai gajah petarung. Berani sendirian melawan dua gajah militer dunia. Bahkan, ketika serangan udara gabungan militer Israel dan Amerika Serikat pada 28 Februari lalu, Iran membuktikan mereka bukan bangsa yang mudah tunduk. Meski dikepung dari berbagai sisi, Iran tetap berdiri tegak melawan dengan meluncurkan lebih dari 370 rudal dan 1.000 drone ke sasaran-sasaran militer. Rudal balistiknya dilaporkan berhasil menembus pertahanan udara dan fasilitas militer utama serta kantor PM Israel di Yerusalem. Nyali Iran telah menghajar kesombongan para Imperalis.
Tak gentar dengan status adidaya, Iran juga menghantam pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk, termasuk di Kuwait, Bahrain dan Qatar. Langkah kartu trufnya adalah penutupan Selat Hormuz yang mengancam pasokan minyak dunia, memaksa negara-negara besar untuk berhitung ulang. Iran pada awalnya mungkin tidak diperhitungkan. Namun, keberanian mereka melawan “Dua Raksasa” sendirian tanpa rasa gentar telah memenangkan rasa hormat dari banyak pihak. Cuma Iran yang “Punya Nyali Besar”. Berani menyerang markas militer “duo mulut besar” yang sering playing victim dan mengumbar bluffing.
Bukan hanya berani menyerang Markas Militer saja, tapi juga menghancur-leburkan kota pelabuhan Haifa, kota terbesar ketiga di Israel.Rekaman terbaru menunjukkan dampak mengerikan dari serangan rudal Iran yang meluluhlantakkan berbagai infrastruktur dan bangunan penting di kota tersebut. Kehancuran di Haifa ini menjadi bukti nyata atau succes story Iran memiliki kemampuan melumpuhkan titik-titik vital musuh kapan pun mereka mau. Iran menyerang Israel sebagai tindakan balasan atas serangan Israel terhadap fasilitas diplomatik Iran di Damaskus, Suriah, pada April 2024. Kini badai telah dituai Isriwil.
Konflik di Timur Tengah sepertinya akan rentan dan terus memanas. Dendam kesumat ini merupakan akumulasi dari ketegangan panjang terkait program nuklir. Serangan militer yang terjadi telah memicu kekhawatiran global karena melibatkan negara-negara besar. Berpotensi membuat konflik yang merambah kawasan lebih luas. Situasi demikian membuat banyak pihak bertanya sampai kapankah konflik bersenjata antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran segera berakhir?. Jawabnya tentu saja tergantung pada Iran. Hanya Iran yang tahu, tapi belum tentu mau. Iran tak akan membiarkan bargaining position yang di atas angin segera berlalu.
Selain isu nuklir, faktor lain yang memperkeruh konflik adalah persaingan geopolitik Iran di kawasan Timur Tengah. Iran memiliki jaringan sekutu dan kelompok yang didukung oleh berbagai negara, termasuk di Lebanon, Suriah, Irak, dan Yaman. Dukungan itu dianggap Amerika Serikat dan Israel sebagai ancaman terhadap stabilitas kawasan yang lebih luas apabila konflik terus berlanjut. Hingga kini situasi di kawasan masih belum ada kepastian apakah konflik akan mereda atau justru menggila. Mungkin saja akan mereda jika Israel meyakini jika “gajah bertarung sama gajah, gajah-nya Zionis yang mati di Timur Tengah”.
Akhir kata, pengorbanan Ayatollah Ali Khamenei tidaklah sia-sia. Menjadi syuhada yang menanggung beban negara demi kehormatan sebuah bangsa. Sang Pemimpin itu telah menempatkan martabat Iran sebagai bangsa yang besar dan dihormati. Penetapan masa berkabung selama 40 hari atas kepergian Ali Khomeini, akan menjadi darah baru sekaligus jiwa bagi generasi pejuang penerusnya. Akan banyak para pejuang yang akan gugur membasahi tanah Timur Tengah. Tapi hanya sedikit yang menjadi legenda. Ayatollah Ali Khamenei adalah salah satunya. Panutan warga dunia yang ingin bangsanya merdeka
(Pemerhati masalah Humanisme Ekonomi, Hukum dan Politik, Ketua LBH PPI-Jabar).











