TERASJABAR.ID – Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto, mendorong penguatan riset multidisiplin sebagai kunci dalam menjawab tantangan global.
Hal ini disampaikan dalam pembukaan The 7th ITB International Graduate School Conference (IGSC 7) bertajuk “Global Leadership in a Fragmented World: Bridging Policy, Innovation, and Inclusive Growth”, Sabtu (23/5).
Mendiktisaintek menilai forum akademik internasional seperti IGSC menjadi penting, di tengah perubahan dunia yang bergerak sangat cepat, mulai dari dinamika ekonomi dan geopolitik, perkembangan kecerdasan buatan (AI), perubahan iklim, hingga ketahanan industri global.
“Yang kita butuhkan saat ini adalah cara berpikir yang lebih integratif, lebih kolaboratif, dan lebih multidisiplin. Saya percaya semangat inilah yang sedang dibangun melalui konferensi ini,” ujarnya.
Menurut Mendiktisaintek, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam membangun kepemimpinan global yang mampu menjembatani berbagai dimensi, mulai dari ilmu pengetahuan dan kebijakan, inovasi dan keberlanjutan, hingga pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
Ia juga menyampaikan bahwa tema yang diangkat dalam konferensi ini sangat relevan dengan kondisi dunia saat ini yang semakin terfragmentasi. Oleh karena itu, diperlukan generasi pemimpin masa depan yang mampu menghadirkan solusi lintas sektor melalui kolaborasi pengetahuan dan riset yang berdampak.
“Penting untuk mendorong ilmu multidisiplin guna memecahkan tantangan global, tetapi di saat yang sama juga menyelesaikan isu-isu di dalam negeri. Ini salah satu tantangan besar ke masa depan, dan diharapkan forum seperti ini dapat melahirkan ide-ide efektif yang dapat memperkuat kolaborasi internasional,” katanya.
Konferensi internasional ini diselenggarakan melalui kolaborasi lintas keilmuan antara Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK) ITB, Sekolah Pascasarjana Ilmu dan Teknologi Multidisiplin (SPITM) ITB, dan Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) ITB.















