TERASJABAR.ID – Bentrokan bersenjata antara Iran dan Amerika Serikat menandakan situasi Timur Tengah semakin rapuh.
Meski Presiden AS Donald Trump menyebut serangan terbaru hanya operasi terbatas, ketegangan di Selat Hormuz menunjukkan konflik tidak bisa terus dibiarkan tanpa risiko besar.
Washington dan Israel memang unggul secara militer selama perang 38 hari dengan korban relatif kecil, tetapi mereka belum mampu mematahkan pengaruh strategis Iran di jalur pelayaran vital tersebut.
Upaya AS melalui “Proyek Freedom” juga gagal total. Program yang diumumkan sepihak itu bertujuan menciptakan koridor aman bagi kapal dagang di sisi Oman dengan dukungan ratusan jet tempur dan kapal perang.
Namun, proyek hanya bertahan sekitar 50 jam setelah Arab Saudi menolak memberi akses wilayah udara dan pangkalan militernya. Riyadh khawatir operasi tersebut memicu perang lebih luas.
Industri pelayaran pun menganggap rencana itu tidak jelas dan tidak efektif.
Iran masih mampu mengancam kapal tanker dan menghambat distribusi energi global.
Ribuan kapal tertahan di Teluk, sementara lalu lintas perdagangan di Hormuz praktis lumpuh beberapa hari terakhir.
Di sisi lain, Iran dinilai tetap tangguh meski mendapat tekanan berat dari AS dan Israel.
Laporan intelijen menunjukkan Teheran masih memiliki sebagian besar rudal dan peluncurnya.
Iran juga menolak tuntutan penghentian total program nuklirnya karena menilai Trump enggan memulai perang besar baru.
Meski demikian, blokade ekonomi AS mulai menekan kondisi domestik Iran.
Inflasi, pengangguran, dan krisis upah meningkat, sementara dunia menghadapi ancaman kenaikan harga minyak dan ketidakstabilan ekonomi global.-***
















