TERASJABAR.ID – Menurut banyak ukuran, Velandai Srikanth berada di puncak kariernya. Ia menjabat sebagai direktur pusat penelitian penuaan, memiliki rekam jejak ilmiah yang kuat, dan telah menerima berbagai pendanaan besar.
Namun, saat memasuki usia 60 tahun, ia mulai menghadapi pertanyaan tentang kapan akan pensiun, sebuah pengalaman yang menyadarkannya pada stigma terhadap usia.
Sebagai dokter geriatri, Srikanth melihat beragam cara pandang terhadap penuaan.
Ada yang menganggapnya sebagai penurunan tak terhindarkan, tetapi ada pula yang melihatnya sebagai fase penuh peluang.
Penelitian dari Yale School of Public Health oleh Becca Levy dan Martin Slade menunjukkan bahwa sikap terhadap penuaan sangat berpengaruh.
Studi terhadap lebih dari 11.000 orang usia 50–99 tahun menemukan bahwa mereka yang berpandangan positif cenderung memiliki kemampuan fisik dan kognitif lebih baik, bahkan mengalami peningkatan seiring waktu.
Sebanyak 44% peserta menunjukkan kemajuan dalam kecepatan berjalan dan fungsi kognitif selama masa penelitian.
Sikap ini diukur melalui berbagai metode, termasuk penilaian terhadap perasaan tentang usia dan asosiasi kata terkait penuaan.
Pola pikir positif mendorong perilaku sehat, seperti tetap aktif secara fisik, mental, dan sosial.
Lingkungan juga berperan, karena melihat lansia lain yang aktif dapat memotivasi individu untuk tetap bergerak.
Srikanth menekankan bahwa usia bukanlah penyakit, dan tidak semua orang tua akan mengalami demensia.
Kaarin Anstey menambahkan bahwa sikap positif membuat seseorang lebih proaktif dalam menjaga kesehatan.
Meski begitu, diskriminasi usia masih menjadi tantangan.
Hal ini dapat merugikan karena banyak individu lanjut usia masih produktif.
Masa tua justru bisa menjadi fase paling membahagiakan dalam hidup, dengan kualitas hidup yang tetap baik dalam waktu lama.-***












