TERAS JABAR – Para pengusaha yang terhimpun dalam Forum Komunikasi Pengusaha Jawa Barat (Forkompenja) menyayangkan adanya aksi demo anarkis di Bandung pada 1 Mei 2026.
Demo bertepatan dengan peringatan hari buruh itu selain merusak fasilitas umum, memacetkan arus lalu lintas juga menimbulkan dampak negatif pada perekonomian.
Ketua Forkompenja Agung Suryamal mengatakan, saat perekonomian nasional khususnya si Jabar lebih khusus lagi di Bandung yang belum pulih dibutuhkan suasana kondusif. “Adanya demo yang anarkis jelas akan berpengaruh karena menimbulkan sentimen negatif terhadap dunia usaha, ” katanya.
Dalam situasi perkenomian nasional dan global yang tidak baik baik saja, selain dibutuhkan suasana kondusif juga butuh dukungan atau partisipasi seluruh masyarakat untuk ikut membantu pemerintah menjaga wilayah masing masing dari gangguan sekecil apa pun. “Ya kita dukung pemerintah yang sedang berupaya memulihkan perekonomian dengan cara menjaga kondusifitas di wilayah kita, ” ujar Agung.
Agung yang juga menjabat Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia ini menyampaikan bahwa demo untuk menyampaikan aspirasi memang dibolehkan tetapi jangan anarkis. Demo anarkis di Bandung berpengaruh pada kunjungan wisatawan ke kota ini. “Ini kan waktunya libur panjang di mana saatnya kota Bandung dikunjungi wisatawan dari berbagai daerah terutama dari Ibu Kota yang datang ke Bandung, ” tambah Agung.
Apa yang disampaikan Agung sesuai fakta di lapangan. Lantaran berita adanya demo di Bandung, dampaknya cukup besar diantaranya telah mengurungkan kunjungan rombongan wisatawan dari Malaysia ke Bandung.
Menurut informasi, rombongan bus yang baru memasuki tol Pasteur Bandung terpaksa balik arah karena ada demo di pusat kota Bandung.
Sementara puluhan kendaraan berplat nomor B juga memilih balik arah untuk menghindari kerusuhan. Menurut informasi, para pemilik kendaraan menerima informasi bahwa ada razia kendaraan berplat nomor B.
“Iya saya dengar ada demo rusuh menangkapi kendaraan berplat B. Jadi saya pilih balik lagi lewat puncak. Cari hotel di puncak, liburannya pindah ke Puncak, ” kata Rudi warga Cengkareng, Jakarta Barat.
BUKAN BURUH
Kapolda Jawa Barat, Rudi Setiawan, memastikan bahwa para pendemo yang bikin rusuh itu bukan berasal dari para buruh.
Mereka menurut Rudi adalah kelompok anarko yang sudah memiliki agenda untuk rusuh di wilayah Jawa Barat pada peringatan May Day 2026, Jumat (1/5/2026).
Ia menegaskan bahwa kegiatan penyampaian aspirasi hanya dilakukan oleh mahasiswa di kawasan Jatinangor, Sumedang, serta di lingkungan DPRD Jawa Barat.
Menurut Rudi, kericuhan yang terjadi di kawasan Jalan Tamansari, Bandung, dilakukan massa yang merupakan kelompok tidak dikenal dengan ciri berpakaian serba hitam dan menutupi wajah.
Mereka sudah berkumpul pada sore hari menjelang malam. Jumlahnya 150-an dengan ciri-ciri berpakaian hitam, menutup muka.
Ia mengungkapkan, kelompok tersebut diduga sudah mempersiapkan aksi kerusuhan. Hal itu terlihat dari perlengkapan yang mereka bawa, termasuk botol berisi bahan bakar yang diduga sebagai bom molotov, serta benda keras lainnya.
Rudi juga membenarkan bahwa sejumlah fasilitas umum menjadi sasaran perusakan, termasuk videotron dan pos polisi di lokasi kejadian. ***











