TERASJABAR – Harga minyak dunia kembali melonjak hingga menembus angka 100 dolar AS per barel setelah pernyataan Donald Trump terkait rencana pemberlakuan blokade angkatan laut di Selat Hormuz.
Kebijakan tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global.
Ancaman blokade di jalur pelayaran strategis tersebut dinilai dapat menghambat distribusi minyak dari kawasan Timur Tengah, yang selama ini menjadi salah satu sumber utama pasokan energi dunia.
Dampaknya, sentimen pasar langsung bereaksi dengan mendorong kenaikan harga minyak secara signifikan.
Kenaikan ini juga sekaligus memupus harapan bahwa konflik yang tengah berlangsung dapat segera mereda.
Sebelumnya, pelaku pasar sempat optimistis bahwa ketegangan geopolitik akan menurun dalam waktu dekat, namun situasi terbaru justru menunjukkan arah sebaliknya.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital bagi perdagangan minyak global, sehingga setiap potensi gangguan di wilayah tersebut berisiko besar terhadap stabilitas harga energi dunia.
Kekhawatiran akan terganggunya rantai pasok membuat investor dan pelaku industri meningkatkan kewaspadaan.
Sementara itu, tim redaksi bisnis terus memantau perkembangan situasi dan dampaknya terhadap perekonomian global melalui laporan langsung, mengingat dinamika ini berpotensi memengaruhi berbagai sektor, termasuk energi, perdagangan, hingga stabilitas ekonomi internasional.-***











