TERASJABAR.ID – Sempat Viral di dunia maya, Jembatan Cirahong yang menghubungkan Tasikmalaya-Ciamis kembali jadi sorotan. Bukan karena macet atau rusak, tapi karena isu pungutan liar yang ternyata salah kaprah. Faktanya, uang yang dikumpulkan di dua pintu masuk jembatan –baik dari arah Ciamis maupun Tasikmalaya– bukan untuk “makan” preman jalanan, melainkan untuk beli kayu pengganti papan yang lapuk.
Jembatan bersejarah peninggalan Belanda ini memang unik. Rel kereta di tengah, jalan kendaraan di sisi kiri-kanan. Lebarnya terbatas, hanya muat satu mobil sekali jalan. Tanpa pengatur, kendaraan bisa “bertemu” di tengah jembatan dan macet total. Di sinilah peran petugas pengatur jalan yang merupakan warga setempat jadi krusial.
Sejak dulu, Jembatan Cirahong tidak pernah memungut retribusi resmi. Warga dan komunitas relawan yang peduli kemudian berinisiatif menjaga jembatan. Mereka berjaga di pintu masuk arah Ciamis dan arah Tasikmalaya.
Tugas utama: buka-tutup jalur agar kendaraan gantian masuk.
Tugas tambahan: tambal sulam papan kayu yang jebol.
“Uang dari pengendara itu sukarela. Tidak dipatok. Kalau ngasih Rp2.000 atau Rp5.000, ya diterima. Kalau tidak ngasih juga tidak apa-apa, tetap diatur jalannya,” kata Dede (45), salah satu petugas yang sudah 8 tahun berjaga di sisi Tasikmalaya.
Dede menunjukkan catatan pembukuan sederhana. Dalam sebulan, terkumpul rata-rata Rp3-4 juta. “Habis buat beli papan kayu, paku, cat, sama ongkos tukang. Kayu mah cepet lapuk kena hujan-panas. Seminggu bisa 3-4 papan yang diganti,” ujarnya.
Kerusakan papan bukan main-main. Lubang menganga bisa bikin motor terperosok atau mobil pecah ban. Pernah ada kasus ban truk sobek karena kena paku dari papan yang hancur. Sejak ada petugas yang rutin patroli dan ganti papan, insiden itu nyaris nol.
Bayangkan Jembatan Cirahong tanpa penjaga. Dari arah Ciamis mobil masuk dari arah Tasikmalaya juga masuk pada waktu itu. Bertemu di tengah, sama-sama tak bisa mundur karena di belakang sudah antri. Macet bisa berjam-jam, sampai ke Jalan Raya Manonjaya.
“Pernah kejadian tahun 2019, petugas libur lebaran semua. Macet dari jam 8 pagi sampai magrib. Mobil sama motor nyangkut di tengah. Akhirnya warga turun tangan dorong-dorong biar bisa muter,” kenang Asep (38) warga sekitar jembatan Cirahong.
Hal senada diungkapkan ujang (52) petugas standby dua shift. Pagi sampai sore, dan sore sampai pagi. Kalau malam Minggu atau musim libur, mereka rela begadang sampai subuh karena antrean wisatawan membludak. “Pernah sampai jam 3 pagi baru sepi. Kami nggak dibayar pemerintah. Ikhlas aja, yang penting jembatan aman,” katanya
Bahkan salah satu pengendara motor asal Ciamis Yana (30) mengaku Tidak keberatan memberikan uang sukarela. “Daripada nyangkut di tengah, mending ngasih goceng. Itung-itung sedekah buat jembatan,” pungkasnya.*











