TERASJABAR.ID – Resistensi insulin merupakan kondisi ketika sel-sel tubuh tidak mampu memanfaatkan gula darah secara optimal karena respons terhadap hormon insulin terganggu.
Kondisi ini sering tidak menimbulkan gejala khas, sehingga banyak orang mengalaminya selama bertahun-tahun tanpa menyadarinya.
Secara normal, karbohidrat yang dikonsumsi akan diubah menjadi glukosa dan masuk ke dalam darah.
Hormon insulin yang diproduksi pankreas membantu glukosa tersebut masuk ke sel-sel tubuh untuk diubah menjadi energi.
Namun, pada resistensi insulin, pankreas tetap menghasilkan insulin, tetapi sel-sel tubuh tidak menyerap glukosa dengan baik.
Akibatnya, kadar gula darah meningkat dan dapat berkembang menjadi prediabetes, bahkan diabetes tipe 2 jika tidak ditangani.
Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko resistensi insulin antara lain kelebihan berat badan atau obesitas, kurang aktivitas fisik, kebiasaan merokok, riwayat diabetes dalam keluarga, konsumsi makanan tinggi gula dan karbohidrat, serta usia di atas 40 tahun.
Selain itu, kondisi seperti sindrom metabolik, diabetes gestasional, stres berkepanjangan, dan sindrom ovarium polikistik (PCOS) juga berhubungan dengan resistensi insulin.
Kondisi ini dapat memicu berbagai masalah kesehatan, seperti perlemakan hati, aterosklerosis, gangguan penyembuhan luka, hingga gangguan hormon.
Untuk mengurangi risikonya, penting menjaga berat badan ideal, rutin berolahraga, mengonsumsi makanan sehat dan tinggi serat, serta membatasi makanan dengan indeks glikemik tinggi.
Karena gejalanya sering tidak disadari, pemeriksaan kesehatan rutin dan tes gula darah sangat dianjurkan agar kondisi ini dapat dideteksi sejak dini.-***


















