TERASJABAR.ID — Memasuki satu tahun kepemimpinan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Bandung Farhan Erwin, sudah saatnya arah perubahan terlihat lebih jelas dan terukur, bukan sekadar penegasan program yang bersifat administratif.
Anggota DPRD Kota Bandung, Andri Rusmana, S.Pd.I, M.A.P. mengatakan, masyarakat menilai kepemimpinan dari dampak nyata yang dirasakan dalam kehidupan sehari-hari, bukan dari narasi atau janji awal semata. Dari sudut pandang pengawasan anggaran dan kinerja pemerintahan, DPRD melihat masih terdapat kesenjangan antara ekspektasi publik dan hasil di lapangan.
“Persoalan kemacetan, pengelolaan sampah, banjir, hingga kualitas infrastruktur lingkungan masih menjadi keluhan berulang. Ini menunjukkan problem tata kelola belum sepenuhnya disentuh secara sistemik,” ujar Andri.
Ia menekankan, secara politis, catatan penting terletak pada kecepatan eksekusi kebijakan. Meski sejumlah program terdengar progresif, menurutnya belum terlihat lompatan kebijakan yang mampu mengubah keadaan secara signifikan.
“Pemerintahan kota tidak bisa hanya bergerak pada ritme birokrasi biasa, sementara tekanan persoalan kota terus meningkat,” katanya.
Selain itu, efektivitas penggunaan anggaran juga menjadi sorotan. Publik, lanjutnya, akan mempertanyakan apabila peningkatan belanja daerah tidak sebanding dengan peningkatan kualitas layanan publik.
“Di sinilah kepemimpinan diuji. Setiap rupiah anggaran harus benar-benar menghasilkan perubahan yang terukur,” tegasnya.
Politisi PKS , juga menilai perlunya kepemimpinan yang lebih kuat dalam mengorkestrasi perangkat daerah. Kota Bandung dinilai membutuhkan komando yang mampu menyatukan arah kebijakan, bukan sekadar koordinasi administratif, agar program prioritas tidak berjalan sendiri-sendiri dan kehilangan dampak strategis.
Memasuki tahun kedua masa jabatan, ruang toleransi publik terhadap proses dinilai akan semakin kecil. Warga, menurutnya, menunggu hasil konkret seperti jalan yang lebih baik, kota yang lebih bersih, transportasi yang lebih nyaman, serta kebijakan yang responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
Sebagai mitra kritis pemerintah, Andri menegaskan akan terus menjalankan fungsi pengawasan secara objektif dan konstruktif.
“Kritik ini bukan untuk menjatuhkan, tetapi untuk memastikan pemerintah kota tidak terjebak dalam zona nyaman pencitraan, melainkan fokus pada capaian kinerja yang nyata,” ujarnya
Ia menambahkan, Bandung tidak kekurangan rencana. “Yang dibutuhkan sekarang adalah keberanian mengambil keputusan dan konsistensi dalam mengeksekusinya.” pungkas Andri.










