TERASJABAR – “Yang saya tahu, dan yakini mantan dirut BJB Yuddy Renaldi adalah orang baik , responsif , cerdas serta kepedulian sosialnya tinggi. “
Pendapat itu disampaikan Iyus Sumpena SH, MPm, ketua Presidium Corong Jabar, sebuah perkumpulan yang didalamnya terdapat para aktivis, politikus, pengusaha dan akademisi.
Kang Iyus, panggilan Iyus Sumpena, menyampaikan hal itu dalam obrolan dengan Terasjabar. Id beberapa hari lalu.
Akhirnya dia bercerita tentang sosok Yuddy Renaldi. Bukan hanya sekedar kawan, Yuddy di mata Iyus adalah teman diskusi yang handal terhadap berbagai masalah yang menyangkut ekonomi dan perbankan.
Oleh karena itu, Kang Iyus dapat merasakan bagaimana penderitaan Yuddy saat ini. Menurut Kang Iyus, Yuddy menjadi korban fitnah yang keji. Dia harus menanggung tuduhan berat terhadap apa yang tidak pernah dia lakukan.
Jujur, lanjut Kang Iyus, dirinya sama sekali tidak menyangka ihwal pemaksaan justifikasi hukum yang begitu sadisnya terhadap Yuddy Renaldi.
Akibat tuduhan serampangan itu, Yuddy menderita lahir dan batin. Saat ini dia sering sakit-sakitan karena menahan pedihnya kehidupan. Lebih kejam lagi dia sudah dimiskinkan. Biaya hidup untuk sehari-hari mantan dirut ini hanya mengandalkan bantuan saudara. “Saya miris sekali melihat dan mengikuti kehidupan Yuddy sekarang ini, “ujar Kang Iyus.
Mitra BJB yang yang disebut sebut KPK sebagai “Pemain” dana non budgeter dengan nilai pantastis Rp222 miliar patut dipertanyakan siapa yang mengendalikannta. Lalu mengapa KPK menuding Yuddy terlibat? Padahal dari hasil pemeriksaan para saksi, Yuddy tidak mengenal para mitra yang terikat kontrak iklan dengan bjb.
Lebih terang lagi dari penelusuran PPATK, lembaga yang kompeten menelusuri jejak penyimpangan duit siluman, jelas tidak ada aliran dana haram yang masuk ke rekening Yuddy Renaldi.
Seperti diketahui bahwa secara struktural bank bjb adalah milik Pemprov Jabar di mana kekuasaan termasuk perintah utama ada di pemegang saham. Sedangkan seorang dirut berasa dibawah kendali dan perintah shareholder tertinggi.
Ironisnya, hasil penyelidikan bahwa ada dugaan keterlibatan stake holder, tetapi sunyi semua, seolah-olah recht vacuum. “Di sini jelas harus ada yang dikorbankan. Itulah kekuasaan dan Yuddy menjadi tumbalnga, sangat memprihatinkan,”ujar Iyus.
Yuddy saat ini sedang menghitung hari tanpa ada kepastian kemana harus melangkah. Setiap pintu dan celah seolah sudah tertutup. Tetapi, yakinlah sebuah cahaya yang disebut kebenaran akan datang menjemputnya. Aamiin. ***














