TERASJABAR.ID – Belakangan istilah Generasi Strawberry semakin populer, terutama di media sosial.
Awalnya muncul di Taiwan, istilah ini digunakan untuk menyebut anak-anak yang lahir di era 2000-an. Analogi strawberry diambil karena buah ini tampak cantik dan segar di luar, namun lunak dan mudah hancur jika mendapat tekanan.
Hal ini dianggap mencerminkan karakter generasi muda saat ini: kreatif, cerdas, tetapi rentan terluka dan cepat menyerah.
Karakteristik Strawberry Generation
Generasi ini dikenal melek teknologi, mampu memanfaatkan digitalisasi untuk tetap up to date dan berpikiran terbuka.
Kreativitas menjadi ciri utama, terlihat dari ide-ide inovatif dan sikap entrepreneurial yang tidak terpaku pada pekerjaan dengan gaji tetap.
Dukungan teknologi juga membuat mereka memiliki jaringan sosial luas melalui media sosial, panggilan video, dan pesan teks.
Namun, strawberry generation cenderung mudah menyerah karena jarang menghadapi tantangan besar, sering dimanja, dan terbiasa dilindungi.
Selain itu, akses informasi yang luas kadang menimbulkan overthinking atau stres.
Media sosial yang memicu perbandingan diri, serta kebiasaan melakukan self-diagnosis, juga memperkuat kerentanan emosional generasi ini.
Cara Menjadi Lebih Tangguh
Untuk menjadi generasi yang lebih kuat, strawberry generation disarankan menerapkan pola pikir berkembang (growth mindset), menyadari bahwa kegagalan wajar, dan tidak mudah menyerap informasi mentah-mentah.
Mengelola stres secara positif, seperti melalui olahraga atau teknik relaksasi, serta meningkatkan literasi dari sumber tepercaya, juga penting.
Dengan begitu, kreativitas tetap bisa berkembang, namun diiringi kemampuan untuk menghadapi tantangan hidup dengan lebih tangguh dan bijak.
Konsultasi dengan psikolog juga dianjurkan jika menghadapi kesulitan emosional yang berat.-***










