Oleh: K.H. A. Ma-ruf Khozin
Kami di pesantren sebagaimana lembaga pendidikan Islam di berbagai negara mempelajari Islam dari bawah sejak usia belasan tahun. Fikih yang saya pelajari mulai dari Fikih praktek yang paling bawah, naik ke kitab Fikih menengah hingga yang tertinggi, memuat dalil dan metode pengambilan hukum (Ushul Fiqh).
Tidak cukup di situ, kami belajar ilmu Nahwu (gramatika) dan ilmu Sharaf (morfologi), ditambah Sastra Arab (Balaghah). Karena ini sebagai ilmu perangkat untuk memahami dalil Qur’an dan Hadis. Sebab kedua dalil ini berbahasa Arab.
Ketika belajar Qur’an, kami berangkat dari kitab Tafsir paling basic, hingga kitab Tafsir dengan berbagai varian, ditambah lagi Ulum At-Tafsir. Demikian pula Ilmu Hadis kami lewati sesuai tahapan yang semestinya dilalui (lihat bagan, meski simpel tapi ketika dilewati memerlukan waktu yang lama).
Tiba-tiba ada orang yang menuduh semua yang telah berjalan ribuan tahun dan diamalkan miliaran umat Islam sebagai perbuatan bidah. Kata bidah cukup diucapkan dan anda akan terlihat lebih pandai dari orang-orang yang belajar puluhan tahun di atas.

Sama seperti Ilmu Kedokteran.
Ilmu kedokteran adalah bidang luas yang mempelajari tubuh manusia, penyakit, dan pengobatan untuk meningkatkan kesehatan. Lingkupnya mencakup ilmu dasar (anatomi, fisiologi, biokimia, farmakologi), ilmu klinis (penyakit dalam, bedah, anak, kandungan), hingga kedokteran komunitas dan preventif. Tujuannya meliputi diagnosis, terapi, dan pencegahan penyakit.
Lalu ada orang yang tidak belajar ilmu kedokteran, hanya hasil lihat di google lalu menuduh “Itu konspirasi”.
Cara terbaik menghadapi orang seperti ini adalah dengan firman Allah Al-Furqon 63:
وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا
“… dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan (tidak menggubrisnya).”











