oleh ReO Fiksiwan
“Setiap teks adalah sebuah hutan tanda, dan iman adalah salah satu cara untuk menafsirkan akar-akar makna yang tersembunyi di dalamnya.” — Umberto Eco(1932-2016), Misreadings(1993).
Ekoteologi yang tumbuh dalam filsafat ketuhanan dan praksis spiritual dewasa ini tidak sedang menyingkirkan otoritas alam di bawah kesadaran manusia.
Justru, ia berusaha mengembalikan alam sebagai mitra dalam iman, bukan sekadar objek eksploitasi.
Fondasi ekoteologi kini girang mendekatkan alam buatan dari sains dan teknologi dengan disrupsi iman—sebuah istilah yang mula-mula muncul dari debat publik antara semiotikus Italia, Umberto Eco, dan teolog Katolik, Kardinal Carlo Maria Martini.
Dialog keduanya, yang diterbitkan dalam bahasa Italia pada 1996 dengan judul In cosa crede chi non crede?, dialihbasa ke dalam bahasa Inggris, Belief or Nonbelief?(2000).
Kelak, pada tahun yang sama hadir di Indonesia lewat alihbasa Jalasutra berjudul, Dua Khutbah dari Iman: Risalah Pertentangan.
Dialog ini memperlihatkan bagaimana iman dan rasio bisa saling berhadapan sekaligus saling melengkapi.
Eco, dengan pandangan sekulernya, menekankan rasionalitas dan humanisme, sementara Martini menegaskan peran iman dalam menjaga moralitas dan spiritualitas.
Salah satu kutipan yang mungkin relevan dengan konstruksi iman sebagai fondasi ekoteologi muncul dalam pernyataan Martini:
“Harapan iman tidak berhenti pada urusan dunia, tetapi menembus melampaui, menghubungkan kehidupan manusia dengan kehidupan kekal.”
Namun, Eco menanggapi dengan perspektif sekuler: “Mungkin yang bisa kita bagikan adalah harapan akan kemajuan, meski dari jalan yang berbeda.”
Kedua kutipan ini menunjukkan bagaimana iman dalam pandangan Martini dan rasio sekuler dalam pandangan Eco, sama-sama membangun horizon harapan.
Jika dikaitkan dengan ekoteologi, konstruksi iman tidak sekadar dogma, melainkan fondasi untuk melihat alam sebagai bagian dari kehidupan kekal, sementara rasio sekuler mengajak manusia menjaga alam demi masa depan bersama.
Krisis iman yang mereka bahas sejalan dengan analisis Huston Smith dalam Why Religion Matters, yang menyoroti empat “terowongan” yang dihadapi manusia modern.
















