Oleh Mila Muzakkar
(Puisi esai ini terinspirasi dari kisah YBR, anak 10 tahun yang mengakhiri hidupnya di kebun cengkih, NTT) (1)
Hari baru saja membuka matanya.
Mentari turun perlahan,
menyapa dedaunan yang masih basah
oleh sisa tangis hujan semalam.
Namun tak semua pagi membawa terang.
Di sudut kecil bumi,
awan pekat lebih cepat tiba,
sepekat hari Yabo, bocah sepuluh tahun itu.
Di depan gubuk sempit,
yang bahkan angin pun sering ragu singgah,
ia duduk diam bersama nasibnya.
Hanya ia dan nenek renta
yang saling menguatkan
dalam dunia yang sering lupa mereka ada.
“Mau bayar pakai apa ya?
Bagaimana kalau saya dikeluarkan dari sekolah?” bisiknya dalam hati.
Pertanyaan sederhana,
namun beratnya melebihi usia sepuluh tahun.
Dari dapur, nenek memanggil,
suara yang mencoba tetap hangat:
“Yabo, ayo makan sama-sama.”
Di atas tikar lusuh,
di papan bambu sederhana,
sepotong ikan asin tergeletak,
ditemani nasi jagung dan sambal cabai.
Menu yang tak pernah berubah,
bukan karena cinta pada rasa,
melainkan karena hidup
tak selalu memberi pilihan.
“Nenek, Bu Guru bilang saya harus bayar uang sekolah.
Sudah setahun saya belum bayar.”
Kalimat itu membuat pagi mendadak sunyi.
Ikan asin terasa makin asin di tenggorokan nenek.
Nasi jagung terasa getir ditelan.
Ia ingin menjawab,
namun kemiskinan sering membungkam kata.
Dengan senyum yang dipaksakan, ia berkata:
“Nanti nenek carikan uangnya ya.
Kamu sekolah saja yang rajin.”
Padahal ia tahu,
janji itu lebih rapuh
dari dinding gubuk mereka.
















