TERASJABAR.ID – Teknologi kecerdasan artifisial (AI) harus diposisikan sebagai alat bantu bagi para penggunanya, bukan dipakai untuk menggantikan proses berpikir yang dapat menciptakan ketergantungan.
Hal itu disampaikan oleh Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria dalam audiensi bersama Tim Riset Digital Culture & New Media Studies Lab Telkom University di Kantor Kementerian Komdigi, Jakarta.
“Kita harus menumbuhkan kesadaran agar mahasiswa tidak bergantung pada AI. AI boleh digunakan sebagai alat bantu riset atau memecahkan persoalan, namun analisis akhir dan proses berpikir harus tetap dilakukan oleh manusia. Jangan sampai mereka cemas saat tidak ada akses AI karena merasa tidak bisa berpikir,” tegasnya, dilansir siaran pers Kemkomdigi.
Nezar menyoroti adanya fenomena mahasiswa yang menggunakan AI tanpa proses analisis sehingga kehilangan sikap kritis.
Padahal, hasil AI tidak bisa langsung dianggap sebagai sebuah kebenaran.
“Yang benar adalah hasil yang dibuat oleh AI ini enggak langsung di-copy paste, tapi dia memparafrase lagi dan kemudian ini dijadikan sebagai alat bantu riset dia,” tuturnya.
Dalam menghadapi fenomena ini, beberapa negara bahkan menerapkan kembali metode klasik tanpa menggunakan perangkat teknologi untuk menguji mahasiswa.
“Di beberapa universitas luar negeri bahkan sudah kembali ke metode tulis tangan untuk esai guna memastikan kemampuan analitik mahasiswa tetap terjaga. AI adalah mitra, bukan pengganti otak manusia,” tambahnya.
Upaya ini diharapkan dapat menjaga pola pikir kritis mahasiswa sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap teknologi.















