TERASJABAR.ID – Pergerakan harga komoditas pangan pokok strategis kerap menjadi faktor pengungkit inflasi, terutama dalam momen Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Ramadan dan Idulfitri.
Tantangan rutin setiap tahun tersebut sebenarnya telah cukup ditangani pemerintah dan akan terus dijaga tingkat kestabilannya.
Oleh karena itu, pemerintah sudah berkomitmen dengan asosiasi pelaku usaha pangan hingga aparat penegak hukum untuk sama-sama menjaga harga pangan pokok strategis. Langkah ini dijalankan dalam menyambut Ramadan sampai Idulfitri nanti.
“Ini perintah Bapak Presiden. Stabilkan harga. Titik. Siap Bapak Presiden. (Itu) sebelum berangkat ke luar negeri. Hari ini, kita rapat koordinasi yang dihadiri pihak terkait, semuanya yang terkait. Kesimpulannya, kita menjaga Harga Eceran Tertinggi pangan, sekarang sampai Ramadhan sampai selesai,” kata Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman di Jakarta.
“Tidak ada boleh pengusaha seluruh Indonesia menjual di atas HET. Kalau ada menjual di atas HET, Satgas Pangan Polri akan bekerja, bila perlu menindaknya. Tidak ada lagi kesempatan, karena sudah lama kita imbau-imbau. (Jadi) tidak boleh menjual di atas HET,” tegas Amran, dikutip laman Bapanas.
Selain pengawasan ketat terhadap harga di lini rantai pasok, pemerintah tetap akan melaksanakan program-program intervensi seperti Gerakan Pangan Murah (GPM) dan Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) di tingkat konsumen.
Hal ini untuk menjaga inflasi yang kerap mengalami pergerakan di awal Ramadan.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat inflasi umum secara bulanan di awal Ramadan tahun 2025 merupakan titik tertinggi dalam lima tahun terakhir di angka 1,65 persen. Ini karena inflasi umum secara bulanan selama ini selalu konsisten berada di bawah 1 persen.

















