TERASJABAR.ID – Di tengah pesatnya pembangunan terminal bandara dan meningkatnya arus wisatawan, Anggota Komisi VII DPR RI Erna Sari Dewi menegaskan bahwa pembangunan bandara belum dapat disebut inklusif apabila masih menyisakan kendala bagi penyandang disabilitas.
Ia menilai bandara sebagai pintu masuk utama pariwisata harus mampu menjamin keselamatan, kenyamanan, serta akses yang setara bagi seluruh pengguna jasa penerbangan.
Pernyataan tersebut disampaikan Erna saat kunjungan kerja spesifik Komisi VII DPR RI ke PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Kamis (15/1/2026).
Kunjungan ini juga menjadi ajang evaluasi kesiapan bandara sebagai representasi awal Indonesia di mata wisatawan.
Erna mengakui bahwa Bandara Soekarno-Hatta dan sejumlah bandara utama, termasuk di Bali, menunjukkan peningkatan kualitas infrastruktur dan kenyamanan.
Namun, perhatian tidak boleh terpusat hanya pada bandara besar, mengingat masih ada sekitar 14 bandara lain yang membutuhkan pembenahan fasilitas dan layanan.
Ia menekankan bahwa peningkatan infrastruktur bukan semata soal kenyamanan, tetapi juga berkaitan erat dengan aspek keselamatan, terutama bagi penyandang disabilitas.
“Kita tidak boleh lupa bahwa sekitar 5 persen dari penduduk Indonesia merupakan penyandang disabilitas. Ini angka yang besar dan memerlukan perhatian khusus,” ujar Erna, seperti ditulis Parlementaria pada Minggu, 18 Januari 2026.
Dengan sekitar 5 persen penduduk Indonesia merupakan kelompok disabilitas, bandara wajib menyediakan akses aman, termasuk bagi bandara yang belum memiliki garbarata.
Lebih lanjut, Erna mendorong penyusunan grand design nasional pengembangan bandara berbasis inklusivitas melalui kolaborasi lintas kementerian.
Ia berharap hasil kunjungan ini menjadi dasar evaluasi berkelanjutan agar manfaat ekonomi pariwisata dapat dirasakan lebih merata di seluruh daerah.

















