( Menata Hidup Dari Dalam )
Oleh : Subchan Daragana / Magister Komunikasi Universitas Bakrei
Banyak orang hari ini hidup sangat sibuk, tanpa sadar kehilangan arah. Jadwal padat, target tercapai, aktivitas tak pernah berhenti, namun hati terasa kosong. Pertanyaan mendasarnya jarang diajukan sebenarnya, bagaimana manusia seharusnya mengisi hidupnya?
Islam sejak awal tidak pernah memandang hidup sebagai sekadar rangkaian aktivitas. Hidup adalah amanah, dan waktu adalah modal utama yang kelak dipertanggungjawabkan. Karena itu, Rasulullah ﷺ tidak mengajarkan umatnya untuk hidup ekstrem, baik ekstrem ibadah maupun ekstrem dunia, tetapi hidup yang tertib, sadar, dan seimbang.
Hadist Dari Abu Juhaifah ra, sahabat Rasulullah SAW, menjadi fondasi penting. Ketika Salman Al Farisi mengunjungi Abu Darda, ia mellihat Ummu Darda dalam keadaan kurang terawat karena beribadah berlebihan hingga mengabaikan tubuh dan keluarganya, Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa setiap pihak memiliki hak, Allah, tubuh, dan keluarga. Pesannya jelas, hidup tidak boleh timpang.
Inilah yang hari ini sering terbalik. Banyak orang berusaha memperbaiki hidup dengan menambah aktivitas, ikut ini, coba itu, disiplin lebih keras. Padahal yang sering bermasalah bukan aktivitasnya, melainkan arsitektur kebiasaan, cara hidup itu disusun dari akarnya!.
James Clear dalam Atomic Habits menyebut bahwa perubahan sejati tidak dimulai dari tujuan besar, tetapi dari sistem kecil yang dijalani setiap hari. Islam jauh sebelumnya sudah mengajarkan hal yang sama melalui konsep istiqamah, amal kecil yang konsisten lebih dicintai Allah daripada amal besar yang terputus.
Namun ada satu lapisan yang lebih dalam, IDENTITAS !. Rasulullah ﷺ tidak membentuk para sahabat dengan daftar aktivitas, melainkan dengan kesadaran siapa mereka. Mereka diyakinkan bahwa mereka adalah hamba Allah dan khalifah di bumi. Dari identitas itulah kebiasaan tumbuh secara alami.












