Oleh Akaha Taufan Aminudin
Sebuah Puisi Esai: Refleksi Ulasan Cakndjojo
Berdasarkan narasi sejarah dan memori personal yang begitu dalam dari tulisan Cakndjojo, berikut adalah Puisi Esai yang menggunakan metafora untuk menggambarkan jiwa Selecta dari masa ke masa.
I. Mantra Sang Tuan dan Api
Melahirkan Kembali
Di tahun dua delapan, seorang Belanda bernama De Ruyter
datang membawa kapak dan mantra
pada belantara yang bisu.
Ia menyulap semak berduri
menjadi permadani hijau yang merayu,
sebuah oase yang ia beri nama
Selecta—Sang Pilihan yang syahdu.
Namun sejarah bukan air tenang
di kolam renang;
ia adalah api yang pernah melahap habis sisa-sisa kenang. [1]
Dari abu kebakaran itu, Selecta tak dibangun dengan tumpukan uang tuan tanah,
melainkan dari keringat ribuan warga yang patungan menanam saham di tanah lelah.
Di sinilah ia menjadi Republik Piknik,
di mana rakyat kecil menjadi raja atas tanahnya sendiri yang eksotik.
II. Jalur Tikus dan Mahkota “Unik’
Bagi bocil-bocil Batu, Selecta bukanlah soal tiket lima puluh ribu,
tapi soal adu lari menembus rimbun
Watu Gedeg yang membisu.
Mereka adalah “penyusup”
yang membawa tawa paling renyah,
meluncur di plorotan, menantang maut
tanpa rasa kalah.
Lihatlah mereka pulang
dengan “mahkota” yang unik:
celana renang basah di kepala,
menepis terik yang mencekik.
Mereka berdesakan di gandengan
Jip Wilys bermuatan sawi dan kol,
sebuah harmoni tanpa sekat, di mana tawa
dan peluh menyatu menjadi nol. [2]
III. Papan Loncat: Sajak Tentang Nyali
Papan loncat itu bukan sekadar
kayu dan gravitasi,
tapi rahim tempat nyali para penerjun Brawijaya diuji.
“Jeburrr!” suara itu adalah sajak sakit
yang nyata,
saat perut menghantam air dan rasa
senep merampas kata-kata.
Itu adalah latihan sebelum benar-benar ditendang keluar dari perut besi,
di angkasa Abd Rahman Saleh
yang membuat jantung hampir berhenti. [3]
Selecta telah mengajarkan: jatuhlah
dengan terlentang,
agar kau tahu bagaimana caranya
bangkit menjadi pemenang.
IV. Cuilan Surga di Tengah Gempuran Beton
Kini, saat modal besar datang
membangun menara-menara kaca,
dan tiket wisata setinggi langit membuat rakyat hanya bisa membaca,
Selecta tetap berdiri sebagai benteng “Perseduluran” yang hangat,
sebuah cuilan surga yang dititipkan
Tuhan agar kita tetap ingat;
Bahwa merawat alam bukan sekadar soal angka di atas kertas saham,
tapi soal menjaga solidaritas agar tak tenggelam di dalam kelam.
Luka gores duri di kaki adalah medali kebahagiaan masa lalu,
yang membuktikan bahwa kebahagiaan sejati tak pernah layu oleh waktu.
Sabtu 10 Januari 2026
Akaha Taufan Aminudin
Sisir Gemilang Kampung Baru Literasi SIKAB Himpunan Penulis Pengarang Penyair Nusantara HP3N Kota Batu Wisata Sastra Budaya SATUPENA JAWA TIMUR
Catatan Kaki (Esai):
- Sejarah Kolektif: Pasca kebakaran hebat tahun 1950, pengelolaan Selecta berubah dari perorangan menjadi milik kolektif warga Desa Tulungrejo. Kini sahamnya dimiliki oleh sekitar 1.110 warga lokal, menjadikannya model unik ekonomi kerakyatan di sektor pariwisata.
- Konteks Sosial 60-an: Penggambaran anak-anak yang menyelinap lewat jalur hutan (Watu Gedeg/Kekep) dan menumpang mobil sayur menunjukkan keterbukaan sosial dan kebersamaan antara penduduk pribumi dan keturunan Tionghoa pada masa itu.
- Penerjun Brawijaya: Selecta memiliki nilai historis sebagai lokasi latihan fisik (ground training) bagi klub terjun payung Universitas Brawijaya sebelum mereka melakukan terjun bebas yang sesungguhnya di Pangkalan Udara Abdul Rachman Saleh.












