Oleh: Yusup Oeblet (Padepokan Bumi Seni Tarikolot)
TERASJABAR.ID – Tahun baru selalu datang membawa janji yang samar: bahwa hidup bisa sedikit lebih ringan, bahwa nasib mungkin belajar bersikap ramah. Bukan karena dunia tiba-tiba menjadi lunak, melainkan karena kita perlahan mengubah cara berdiri di dalamnya.
Tahun baru 2026 merupakan “pusaran nasib dalam keadaan yang serba samar”. Nasib sering kita bayangkan sebagai sesuatu yang keras dan tak bisa ditawar –sebuah rangkaian peristiwa yang jatuh dari langit tanpa bertanya. Namun barangkali nasib tidak sepenuhnya kejam; ia hanya jujur. Ia memperlihatkan apa adanya batas, kehilangan, dan kemungkinan. Yang membuatnya terasa berat, sering bukan karena peristiwanya itu sendiri, melainkan perlawanan kita terhadap kenyataan bahwa hidup memang tidak selalu sesuai rencana.
Menghadapi tahun baru ini, harapan akan nasib yang lebih ramah bukan berarti meminta hidup tanpa luka. Ia berarti belajar berdamai dengan luka itu, tidak menjadikannya pusat dari seluruh cerita. Nasib yang ramah adalah ketika kita berhenti memaksa diri menjadi versi yang selalu kuat, dan mulai mengizinkan diri menjadi manusia yang utuh –rapuh, bertumbuh, dan terus belajar.
Hidup yang lebih ringan lahir dari keberanian melepaskan: ekspektasi yang terlalu tinggi, penyesalan yang sudah lewat, serta perbandingan yang tak pernah adil. Ringan bukan berarti kosong, tetapi cukup. Cukup menerima bahwa tidak semua hal harus dimenangkan, tidak semua pertanyaan harus dijawab, dan tidak semua perjalanan harus cepat.
Maka, di ambang tahun ini, kita tidak hanya berharap nasib berubah arah, tetapi juga berjanji untuk mengubah sikap. Menyambut hari dengan kesabaran, merawat diri dengan belas kasih, dan memandang masa depan bukan sebagai ancaman, melainkan ruang kemungkinan.
Jika nasib kelak tetap datang dengan wajah yang keras, semoga kita telah belajar menyambutnya dengan hati yang lebih lapang. Karena barangkali, nasib yang paling ramah adalah yang mengajarkan kita cara hidup dengan lebih lembut terhadap dunia, dan terutama terhadap diri sendiri.*

















