Oleh: Jacob Ereste (Penulis anggota Hati Pena)
Mengenang Gus Dur (KH. Abdurrahman Wahid) seakan memutar ulang ingatan pada tahun 1980-an saat penulis masih menjadi mahasiswa di Yogyakarta sebagai redaktur budaya Majalah Muhibbah yang sempat dibredel rezim Orde Baru karena memang cukup keras mengkritik semua kebikan pemerintah yang tidak berpihak kepada rakyat.
Akibatnya Majalah Muhibbah milik Mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) Yogayakarta ini berhenti absen untuk dua edisi (jika tidak salah) hingga pihak Universitas meminta untuk diterbitkan kembali dengan nama baru Majalah Himmah.
Melalui Majakah Kampus inilah pertautan kami sebagai mahasiswa dengan sejumlah tokoh nasional ketika itu untuk keperluan Laporan Utama yang hendak disajikan dengan mengundang berbagai tokoh tersebut secara bergilir pada setiap edisi penerbitan, mulai dari Gus Dur, Adi Sasono, Habib Khirzin, Arif Budiman, serta tokoh lainnya termasuk penyair dan dramawan besar Indonesia, WS. Rendra yang juga sudah bermukim di Jakarta.
Selera intelektual redaksi Majalah Muhibbah yang cukup tinggi — hingga sempat tercatat sebagai Majalah Kampus terbesar oplah penerbitannya ketika itu diasuh oleh Machfud MD (Ketua Umum), Anang Eko Priyono (Pemred) serta Hamid Basyaif serta kawan-kawan redaksi lainnya yang sebagai aktivis berat. Setidaknya, semua aktivis dan pengurus Majalah Muhibbah yang dibredei pemerintah ketika itu adalah aktivis dan demonstran 1978 yang menentang pemberlakuan NKK dan BKK hingga panser tentara ketika itu bisa masuk ke dalam Kampus Fakultas Sesdaya Universitas Gahah Mada.
Duet antara mahasiswa dari Kampus UII dan UGM memang seperti pelopor dari pergerakan mahasiswa di Yogyaharta ketika itu, karena Rektor UII yang dijabat oleh GBPH. Prabuningrat — saudara kandung Hamengku Buwono IX selalu mendukung gerakan dan aktivitas mahasiswa. Sehingga mahasiswa tidak hanya merasa mendapat pembelaan saat diciduk aparat, tapi cukup dimanjakan seperti memiliki Pemancar Stasiun Radio yang bertengger langsung di Kampus Pusat UII, Jl. Cik Di Tiro No. 1 Yogyakarta Hadiningrat.












