“Ini bukan hanya soal kemudahan, tetapi tentang bagaimana kami menghadirkan pengalaman perjalanan yang utuh dalam satu genggaman,” tutur Anne.
Sebagai bagian dari komitmen KAI terhadap keberlanjutan dan efisiensi layanan, Access by KAI juga dilengkapi dengan fitur Carbon Footprint serta pendaftaran face recognition boarding yang kini tersedia di 22 stasiun.
Fitur ini memungkinkan proses boarding berlangsung lebih cepat, efisien, dan nyaman, terutama pada periode dengan volume perjalanan tinggi seperti Nataru.
Dari sisi layanan operasional, kereta api jarak jauh melayani 3.392.439 pelanggan atau 122,9 persen dari kapasitas 2.761.048 tempat duduk.
Sementara itu, kereta api lokal melayani 786.656 pelanggan atau 105,6 persen dari kapasitas 745.056 tempat duduk.
Tingkat keterisian yang melampaui kapasitas ini dipengaruhi oleh pola perjalanan pelanggan yang dinamis, khususnya pada layanan kereta api lokal yang memungkinkan naik dan turun pelanggan di sejumlah stasiun dalam satu perjalanan.
“Kami melihat digitalisasi tidak hanya mempercepat transaksi, tetapi juga membantu pelanggan merencanakan perjalanan dengan lebih tertib dan terukur. Inilah mengapa penguatan ekosistem digital terus kami dorong sebagai bagian dari transformasi layanan KAI,” jelas Anne.
KAI menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kepercayaan masyarakat yang terus memilih kereta api sebagai moda transportasi andalan selama periode Nataru.
“Ke depan, KAI akan terus memperkuat layanan digital, memperluas integrasi antarmoda, serta meningkatkan kualitas pengalaman pelanggan. Transformasi ini kami jalankan secara berkelanjutan agar kereta api semakin relevan, nyaman, dan menjadi bagian dari gaya hidup mobilitas masyarakat,” tutup Anne.***















